Pertalian Akrab Unsur Alam dengan Manusia dan Tuhan

Oleh A. Halim Ali

Alam sekitar, termasuk manusia, merupakan unsure yang dijadikan sebagai sumber oleh penyajak untuk mencari dan memugar ilham. Penyajak hampir tidak terelak daripada bergantung pada dua sumber penting itu untuk membina dan mengolah ilham mereka dalam bentuk bahasa yang indah. Dengan mengambil contoh beberapa orang tokoh penyair terkenal, seperti Usman Awang,A. Samad Said, Muhammad Salleh, Latif Mohidin, Dharmawijaya dan Kemala, pembaca menemukan ertidalam objek alam sekitar dalam proses penciptaan sajak.Sungai Mekong “bernyawa” di tangan Latif, bunga popi tumbuh indah di tangan Usman, demikian juga dalam sajak “Guru Oh Guru” dan “Salji Hitam”. Senja dan insane pulang pula syahdu di tangan Samad.

Selagi penyair itu masih hidup, selagi itulah alam dan manusia hidup subur dalam puisi. Alam dan manusia dijadikan sebagai tempat luahan perasaan. Alam dan manusia juga dijadikan sebagai sumber penyair masuk ke dalam perasaan. Dengan bergantung pada keadaan penyair itu berhadapan dengan alam dan manusia, pembaca akan dapat mentafsirkan sama ada alam sekitar dan manusia itu dijadikan sebagai tempat luahan perasaan ataupun membawa masuk alam dan manusia itu ke dalam perasaannya. Namun begitu, yang penting untuk diperhatikan ialah wujudnya pertalian akrab hubungan dua unsur tersebut yang menjadikan sajak “hidup” dengan wajah realitinya.

Sajak “Warung Bakso” karya Ainunl Muaiyanah Sulaiman sajak yang baik dengan gaya pemerihalan yang baik. Manusia yang digambarkan oleh penyajak berada dalam suasana muhibah dengan riak alam yang mendinginkan dan menceriakan. Manusia pembeli yang kedinginan, penjual sibuk melayan pembeli, perempuan penjual dengan kebaya batik Jawa. Kedinginan penjual dan pembeli terkait erat dengan hujan yang turun membasahi mereka. Unsur alam dihadirkan dengan baiknya dan menampakkan keakrabannya dengan realiti di warung (dari baris ketujuh hingga baris kesebelas).

Berselingan duduk dan memesan semangkuk bakso hangat Tanpa membezakan kasta dan sempadan negara, aku meminta cawan mengisi minum daripada perempuan menyarung kebaya Jawa meminta izin sehelai tisu di hadapan tubuh kekar lelaki Bugis Sebotol kicap dan sambal lada hijau daripada mata sepet berkaca mata.

___

Ulasan ini dipetik daripada Tunas Cipta Januari 2012.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *